Is Customer a King?

king.jpgKonsumen adalah raja. Sebuah jargon yang paling umum digunakan banyak orang. Kenapa? Karena ditangan konsumenlah, uang itu akan mengalir. Jadilah banyak pengusaha berlomba-lomba menganggap bahwa konsumennya itu raja. Dan layaknya seorang raja, segala macam tawaran terbaik ditawarkan.

Tapi benarkah demikian?

Menurut saya, kuburkan sementara jargon itu. Bahkan kalau perlu selamanya. Terutama buat konsumen. Sudahkah anda mendapatkan layaknya seorang raja? Apalagi jika berhubungan dengan aparat pemerintah. Mmmm….it’s only in Indonesia!

Tapi, tidak hanya dengan pemerintah, dengan pihak swasta pun konsumen belum diperlakukan layaknya seorang raja. bahkan lebih tepatnya korban! We don’t have any choice. Take it or leave it!

Contoh kasus, masih mahalnya tarif selular di Indonesia. Walaupun akhir-akhir ini gencar sekali iklan tarif murah dari berbagai operator, tapi tetap saja tarif itu masih sangat mahal. Misal, iklan tarif selular Rp. 1/detik. Kalau cuma dilihat sekilas memang murah. Dengan 1 rupiah per detik berarti satu menitnya Rp. 60 per menit, dan Rp. 3.600 per jam! Wow! Tapi benarkah demikian?

Coba perhatikan betul iklan tersebut, dengan huruf YANG SANGAT KECIL, ada tulisan syarat dan ketentuan berlaku. Nah lho… apa saja tuh syaratnya?

Ketentuan itu berlaku jika billing anda minimal Rp. 150 ribu ! Kalau kurang dari itu ya…. tarif normal.

Itu baru dari satu operator. Belum yang lain. Padahal sudah selayaknya masyarakat berhak mendapatkan tarif yang murah. Karena keuntungan dari operator sesungguhnya sudah berlipat-lipat. Sedangkan alasan paling sering digunakan pemerintah adalah untuk menarik para investor menanamkan modalnya di Indonesia.

So, Konsumen itu Raja atau Korban?

Contoh lain lagi dan ini saya rasa paling aktual, yakni kehadiran Fastnet yang menawarkan internet dengan tarif murah dan flat untuk penggunaan tanpa batas. Yang membedakan hanya tingkat kecepatannya saja. Up to 384 kbs cukup membayar Rp. 108.900 per bulan. Jujur saja, tawaran ini sangat fantastis untuk keadaan sekarang.

Pasar Internet di Indonesia sungguh sangat luas dan menjanjikan. Pengguna internet di Indonesia menurut kabar terakhir, berada di peringkat 13 persis dibawah Kanada. Meskipun jika dibandingkan jumlah penduduk, cuma 8%. Tapi, ya wajar mengingat jumlah penduduk Indonesia yang sangat buaaanyak ini.

Dengan pasar yang begitu luas dan prospektif ini, ternyata tidak diimbangi dengan infrastruktur yang menjanjikan. Memble! Apalagi masih dibawah ketiak monopoli Telkom. Maka wajar, jika banyak pihak mengincar bisnis ini. Salah satunya yakni Firstmedia yang dimiliki oleh Group Lippo.

Begitu Fastnet diiklankan di Kompas, saya sudah menduga ini pasti jadi rebutan. Karena tawaran seperti inilah yang ditunggu banyak orang. Dan ekspektasi orang begitu tinggi. Dengan melihat kepemilikan oleh non pemerintah, mereka yakin akan mendapatkan pelayanan yang memuaskan.

Terlebih mereka sudah capek dengan Speedy, yang disebut-sebut menjadi pesaing paling dekat dengan Fastnet. Dulu saat Speedy menurunkan tarif, orang berlomba-lomba untuk pasang. Dan hasilnya… lemot.

Bagaimana dengan Fastnet? Jika kita lihat diskusi atau surat pembaca yang bertebaran di Internet (silahkan cari di google tentang Fastnet ini anda akan menemukan keluhan di berbagai forum diskusi dan surat pembaca), ternyata Fastnet itu Tak Seindah Kata-Kata. Kalau boleh dikumpulkan antara lain:

  • Keterbatasan wilayah. Masih mencakup Jabotabek dan Surabaya. Itupun di dalam masing-masing kota, hanya didaerah tertentu yang sudah ada jaringan Kabelvision/Digital 1.
  • Call Center yang selalu sibuk. Jika anda menelpon 55777788 dijamin anda harus menunggu dulu, bahkan terkadang menelpon kembali. Saya tidak tahu, berapa jumlah tenaga call center mereka. Tapi keadaan sekarang sungguh menyedihkan. Alasan klasiknya sih, kami kewalahan dengan membludaknya permintaan.
  • Tidak fleksibel [1]. Pengguna internet di Jakarta boleh dibilang kebanyakan adalah orang kantoran dan mahasiswa. Bagi orang kantoran di Jakarta, hal yang jamak pulang sampai di rumah di malam hari. Jadi boleh dibilang ada dirumah setelah maghrib dan di akhir pekan. Tapi justru disaat-saat itulah tenaga instalasi Fastnet tidak tersedia. Paling hanya di hari sabtu mereka ada. Bayangkan jika anda tinggal berdua sama istri anda. Ataupun dirumah anda hanya ada pembantu, yang boleh jadi tidak tahu menahu tentang masalah komputer apalagi internet!
  • Tidak fleksibel [2]. Karena pake Kabel, jadi tidak wireless! Sekarang jamannya mobile. Orang begerak terus, dan masih ingin connected with others. Check email, chatting, buka friendster, facebook, dll.
  • Dan yang paling menyebalkan calon konsumen Fastnet adalah lambatnya respon terhadap keinginan konsumen. Buat yang tinggal di Jakarta, hari ini anda mendaftar untuk jadi konsumen Fastnet, mungkin satu bulan lagi baru dipasang. Kalau sudah terpasang, itupun berharap tidak ada gangguan. Kalau ada, ya anda harus bersabar lagi. Dan jika anda gangguan pun, saat anda menghubungi call centernya untuk dikirim teknisi besok hari, mungkin dijawab iya, tapi kenyataannya akan datang paling tidak 4 hari kedepan.

Kesimpulannya, produsen [Fastnet] memanfaatkan ketidakberdayaan konsumen untuk menarik keuntungan. Disini posisi konsumen sangat lemah. Take it or leave it!

Seharusnya, First Media sebelum beriklan besar-besaran membenahi dulu infrastruktur yang akan ditawarkan. Dan konsolidasi internal lebih dahulu. Konsumen lama Firstmedia adalah pelanggan Kabelvision/Digital 1, Linknet, Mynet. Migrasi mereka ke Fastnet harus menjadi prioritas pertama. Jika berlangsung dengan mulus, baru mengarah ke konsumen baru. Ke konsumen baru pun, mereka harus berhitung kesiapan infrastruktur, baik secara teknis maupun SDM nya.

Kalau melihat keadaan sekarang, bisa dipastikan pihak Firstmedia sangat TIDAK SIAP dalam menghadapi serbuan konsumen. Yang dituju adalah menangkap momen kebutuhan yang tinggi akan internet murah. Tangkap momen dan ambil untung!

Kalau sudah begitu, betulkah Konsumen itu Raja?

 

One thought on “Is Customer a King?

  1. Saya percaya. ITULAH INDONESIA, jauhhhh…. jauuuhhhh….apalagi ada kata “bijakhanam” yang berbunyi – Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah? – Kalau rakyat masih bisa dibohongi ya…. ngibullah seumur-umur.
    Namanya juga negeri maling, yang bukan maling ya bukan penduduk negeri maling dong

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.