Pembelian Alfa Supermarket oleh Carrefour Indonesia

Pada tanggal 17 Desember 2007, telah terjadi penandatanganan nota kesepahaman antara PT. Alfa Retailindo Tbk dan PT. Carrefour Indonesia, bahwa PT. Carrefour Indonesia akan membeli 75% Saham PT. Alfa Retailido Tbk.

 

Ada yang pro, banyak pula yang kontra. Berikut ini kliping dari berbagai media mengenai berita tersebut.

 

1. Media Indonesia

Aprindo: Carrefour Bisa Beli Alfa

Penulis: Hanum

JAKARTA–MEDIA: Transaksi rencana pembelian 75% saham PT Alfa Retailindo Tbk oleh anak perusahaan ritel asal Perancis PT Carrefour Indonesia, dinilai tidak menyalahi aturan yang ada. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan, kepemilikan asing memang diperbolehkan masuk pada jenis usaha ritel besar.

“Asosiasi menilai ini tidak menyalahi aturan. Asing bisa membeli ritel besar sesuai ketentuan pemerintah. Salah satunya, modal asing tidak boleh masuk ke ritel kecil. Kalau itu yang terjadi, sudah pasti saya akan komplain lebih dulu,” kata Ketua Umum Aprindo Handaka Santosa, kepada Media Indonesia.

Dia mencontohkan, salah satu peritel asing yang berkeinginan masuk ke Indonesia yakni Supermarket Seven eleven, beberapa waktu lalu. Aprindo dengan tegas menentang rencana tersebut karena bertentangan dengan aturan pemerintah.

Salah satu aturan yang menjadi acuan Aprindo adalah Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha Yang Tertutup dan Terbuka, sebagai hasil revisi Perpres sebelumnya. “Sesuai aturan itu, Carrefour tetap tidak boleh masuk ke ritel kecil ataupun membuka supermarket dibawah 1.200 meter persegi. Itu sesuai dengan Perpres tentang Daftar Negatif Investasi (DNI),” paparnya.

Handaka mengatakan, rencana akuisisi Carrefour hanya dilakukan kepada Alfa yang masuk pada kategori ritel besar. Menurut dia, akuisisi tersebut lebih kepada pergantian kepemilikan dan tidak berpengaruh signifikan pada manajemen perusahaan Alfa yang berada di ritel kecil.

“Kalau Alfa yang minimart itu perusahaannya beda lagi,” cetusnya.

Dikatakannya, perusahaan asing seperti Carrefour dinyatakan melanggar aturan apabila perusahaan tersebut menguasai lebih dari 50% pangsa pasar yang ada. Data Aprindo menunjukkan, penjualan Alfa Supermarket saat ini hampir Rp2 triliun. Total penjualan perusahaan ritel besar dan kecil yang termasuk anggota Aprindo sendiri berjumlah lebih dari Rp60 triliun.

Di sisi lain, penjualan Carrefour di Indonesia saat ini sudah mencapai Rp7 triliun atau 11,7% dari total penjualan anggota Aprindo yang berjumlah sebanyak 7.000 perusahaan.

“Walaupun rabat, Alfa masih satu perusahaan dengan yang minimart. Tetap saja kepemilikannya beda. Alfa supermarket kan memang sudah berfungsi, jadi kalau dibeli ya sama saja. cuma ganti pemilik saja.Yang punya supermarket kan banyak lagi spt Tip Top, Sogo, Hari-hari, Ranch Market,” paparnya. (Zhi/OL-2)

2. Bisnis Indonesia

Jumat, 04/01/2008 13:41 WIB

Mencermati tren kelahiran ‘bayi’ sejumlah raksasa ritel

oleh : Linda T. Silitonga

Setelah didahului oleh pesaingnya, akhirnya Carrefour siap-siap untuk melakoni bisnis toko modern dengan skala areal luas belanja yang lebih kecil, pasca akusisi PT Alfa Retailindo Tbk (Alfa).

Sebenarnya desas-desus Carrefour bakal ‘mencaplok’ Alfa Retailindo sudah terdengar Juli 2007. Isu tersebut merebak di sela-sela finalisasi negosiasi akuisisi Alfa Retailindo oleh PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk.

Kabar akuisisi Alfa Retailindo oleh Carrefour makin kencang berembus sebulan terakhir. Sementara itu, upaya Ramayana untuk membeli Alfa Retailindo telah terhenti sejak memasuki minggu terakhir September.

Namun, setiap kali diminta konformasinya, dengan piawai pihak Alfa ataupun Carrefour menutupi rencana itu. Isu kemudian mengerucut pada rencana Carrefour membuka format supermarketnya yang bermerek Champion dengan cara mengakuisisi Alfa.

Ketika ditanyakan kebenarannya, Komisaris PT Alfa Retailindo Tbk Djoko Susanto sampai bersumpah akan menyediakan rumah Rp1 miliar jika isu itu terbukti.

Sementara itu, Christian Charitat, Direktur Operasional PT Carrefour Indonesia secara tegas menyatakan tidak mungkin Carrefour memboyong Champion ke Indonesia.

“Supermarket itu kompetitor Carrefour. Jadi kenapa harus membawa Champion ke Indonesia,” jelas Christian Charitat saat ditemui di Lampung belum lama ini.

Sampai akhirnya kedua perusahaan tersebut mengumumkan di media (19 Des.) telah terjadi nota kesepahaman pada 17 Des., dan Carrefour akan membeli 75% saham Alfa. Dalam pengumumannya Carrefour menjelaskan kegiatan usaha di Indonesia adalah supermarket dan hipermarket.

Merek hipermarket

Jika memang bukan dengan cara menggotong merek supermarketnya ke Indonesia pasca akuisisi, berarti besar kemungkinan merek yang akan dipakai oleh Carrefour untuk 29 toko Alfa adalah sama dengan merek hipermarketnya (Carrefour).

Sumber: Majalah Retail Asia, 2007 Alfa memiliki format hipermarket yang diberi merek Alfa Toko Gudang Rabat dengan luas toko di atas 6.000 m2 , sedangkan format supermarketnya bermerek Alfa Supermarket dengan luas gerai 2.000-3.000 m2 .

Bila itu benar terjadi berarti sama dengan pesaing yang lain, Carrefour akan gencar melakukan ekspansi untuk gerai hipermarket yang kompak, atau dengan gerai yang luasnya lebih kecil.

Dugaan tersebut sejalan dengan isu yang dilontarkan para pemasok Carrefour, bahwa raksasa ritel ini akan mengoperasikan gerai yang lebih kecil dengan merek sama, yang mereka sebut sebagai baby Carrefour.

Gaya ekspansi

Masalahnya, gaya hipermarket masuk ke skala supermarket kerap membuat konsumen kecele. Mereka datang ke toko bermerek hipermarket dengan harapan lebih murah, nyatanya toko itu berformat supermarket.

Sebaliknya jika diyakini masih masuk dalam format hipermarket, jumlah produk yang dipajang amat terbatas. Tidak seperti di hipermarket yang bisa menjumpai segala macam keperluan (one stop shopping).

Berdasarkan Perpres Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, ada batas luasan areal yang berimpitan dari beberapa format toko modern.

Misalnya, toko dengan luas 5.000 m2 bisa dikelompokkan sebagai supermarket atau hipermarket,sedangkan toko dengan luas 400 m,2 bisa masuk dalam kelompok supermarket dan minimarket.

Carrefour belakangan ini semakin mendekati batas minimal luas gerai hipermarket sesuai dengan perpres, yaitu dengan mengoperasikan Carrefour Cikokol yang luas gerainya hanya 5.071 m2.

Dari dokumen hasil pendataan Depdag, dari 23 toko Carrefour yang ditelusuri terdiri dari luas 10.000 m2 (1 toko), 9.000 m2 (4 toko), 8.000 m2 (9 toko), 7.000 m2 (2 toko), 6.000 m2 (5 toko), 5.000 m2 (2 toko).

“Bila Carrefour membuka outlet baru, dalam sekejap akan melesat penjualannya. Apalagi minat Carrefour turun ke [format toko] lebih bawah, jadi lebih cepat lagi,” papar Sekjen Aprindo (Asosiasi Pengusaha ritel Indonesia) Tutum Rahanta.

Keperkasaan Carrefour tampak dari laporan majalah Retail Asia. Pada 2006, dengan 24 toko Carrefour mampu menduduki peringkat kedua perolehan omzet di Indonesia, yakni Rp7,23 triliun.

Bisa dibayangkan, omzet Carrefour jika mengambil alih 29 toko Alfa, plus sejumlah pembukaan gerai baru.

Anggota KPPU (Komisi Pengawas Persaingan Usaha) Syamsul Maarif memproyeksikan Carrefour akan mendominasi industri ritel di Indonesia. (linda.silitonga@bisnis.co.id)

3. Hidayatullah.com

 

Carrefour Dikhawatirkan Gusur Peritel Lokal



 

Kamis, 03 Januari 2008

PT Carrefour Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan pemegang saham utama Alfa. Akan banyak ritel asing “menguasai” Indonesia

ImageHidayatullah.com–Akuisisi Alfa oleh Carrefour dikhawatirkan tidak hanya akan menggusur pasar tradisional, tapi juga peritel moderen lokal. Sebab, dengan akuisisi itu, Carrefour dapat ekspansi dalam bentuk minimarket yang hanya boleh dimiliki pemain lokal.

Di dalam revisi Peraturan Presiden tentang Daftar Negatif Investasi yang terbaru, disebutkan perusahaan terbuka diperlakukan sama dengan perusahaan lokal. Artinya, perusahaan terbuka boleh memiliki minimarket dengan luas kurang dari 1.200 meter persegi.

“Kalau akuisisi itu terjadi, maka lengkap dan sempurnalah asing menjajah Indonesia,” ujar Ketua Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia Susanto dikutip Tempo, Rabu (2/1) di Jakarta.

Pasalnya, menurut dia, ritel sebagai sektor yang sangat krusial karena menyangkut hajat hidup orang banyak.

“Jika sektor ini sudah dikuasai asing, bahkan dalam bentuk terkecil yang terdekat dengan masyarakat, maka asing bisa menentukan mulai dari jenis hingga harga dari produk yang banyak dikonsumsi masyarakat,” kata Susanto.

Seperti diberitakan, 17 Desember lalu PT Carrefour Indonesia menandatangani nota kesepahaman dengan pemegang saham utama Alfa, PT Sigmantara Alfindo dan Prime Horizon Pte Ltd. Selanjutnya Carrefour akan memulai negosiasi untuk memiliki 75 persen saham Alfa.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Tutum Rahanta mendukung proses akuisisi itu. Tapi ia meminta Carrefour pasca-akuisisi tetap konsisten berusaha di bidang hipermarket, tanpa harus memperluasnya menjadi supermarket atau minimarket.

“Rantai makanan harus tetap seperti awal mulanya. Hipermarket harus tetap menjadi hipermarket, bukan menjadi supermarket atau di bawahnya agar tidak menjadi pemain dominan di ritel,” papar Tutum.

Untuk mencegah hal itu, menurut dia, seharusnya pemerintah lebih jeli dalam membuat aturan teknis–turunan–dari Daftar Negatif Investasi tersebut.

“Harus ada aturan detil bahwa pemilik lokal minimarket itu walaupun boleh yang sudah masuk bursa, tapi misalnya: manajemen tidak boleh dikuasai asing dan tidak boleh ada nama pemain asing dalam akta jual beli yang dikeluarkan notaris,” jelasnya.

Dengan begitu, menurut dia, pemain lokal yang benar-benar memiliki minimarket dengan sistem waralaba tersebut.

“Dan hal ini senapas dengan semangat pemerintah daerah yang membatasi izin minimarket,” tutur Tutum.

Seperti diketahui, pemerintah daerah Jakarta telah menhentikan sementara izin usah aminimarket selama tahun 2007, sebab saat ini jumlah minimarket yang semakin menjamur. Kendati pertumbuhan ritel telah banyak menggerakkan perekonomian kota, tapi pemerintah menilai perlu dilakukan penataan serta selektif dalam pemberian izin karena beberapa daerah sudah mengalami kejenuhan jumlah ritel atau minimarket. R.R. [tmp/www.hidayatullah.com]

« »

4 comments

  • Salah satu dampak globalisasi investasi dan perdagangan ialah masuknya investor asing ke Indonesia termasuk sektor retail. Apakah pemain lokal mampu bersaing dengan pemain global tergantung pada kemampuan kapital,SDM, teknolgi dan jejaring distribusi yang bisa dibangun pemain lokal dan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah.Jika perundang-undangan misalkan secara tegas mengatur pemain retail raksasa hanya boleh bermain di sektor hypermarket dan tidak tidak boleh merambah supermarket, mini market dst. pasti pemain lokal boleh bernafas lega karena pesaing raksasa tidak akan mengganggunya. Tapi peraturan yang begitu pasti tidak akan pernah dikeluarkan oleh pemerintah karena invisible hand (tangan-tangan bayangan) pasti akan berusaha merubah isi peraturan yang tegas menjadi kata-kata yang bias (grey area)sehingga bisa menimbulkan berbagai tafsir yang berbeda tergantung siapa yang menafsirkan dan kepentingan mana yang ikut bermain.Semoga saja masih ada pemimpin bangsa Indonesia yang bersedih hati melihat rakyat Indonesia ngantri minyak tanah,sulit usaha tempe tahu, banyak yang bangkrut usaha ternak, garment,sepatu, dan banyak pasar tradisional yang bangkrut karena pelanggannya pada beli di supermarket, hypermarket. Komplitlah penderitaan bangsa Idonesia, jika akibat globalisasi, penguasa asing telah memiliki idosat, telkom, perbankan, penerbangan, maka tinggalah bangsa Indonesia ini menjadi penonton di negeri sendiri dan sekaligus penyewa tanah di tanah airnya sendiri, karena bisa jadi semua apartemen dan gedung perkantoran sahamnya sudah dibeli investor luar negeri. Adakah pemimpin bangsa Indonesia yang sedih memikirkan hal ini?

  • Salah satu dampak globalisasi investasi dan perdagangan ialah masuknya investor asing ke Indonesia termasuk sektor retail. Apakah pemain lokal mampu bersaing dengan pemain global tergantung pada kemampuan kapital,SDM, teknolgi dan jejaring distribusi yang bisa dibangun pemain lokal dan peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah.Jika perundang-undangan misalkan secara tegas mengatur pemain retail raksasa hanya boleh bermain di sektor hypermarket dan tidak tidak boleh merambah supermarket, mini market dst. pasti pemain lokal boleh bernafas lega karena pesaing raksasa tidak akan mengganggunya. Tapi peraturan yang begitu pasti tidak akan pernah dikeluarkan oleh pemerintah karena invisible hand (tangan-tangan bayangan) pasti akan berusaha merubah isi peraturan yang tegas menjadi kata-kata yang bias (grey area)sehingga bisa menimbulkan berbagai tafsir yang berbeda tergantung siapa yang menafsirkan dan kepentingan mana yang ikut bermain.Semoga saja masih ada pemimpin bangsa Indonesia yang bersedih hati melihat rakyat Indonesia ngantri minyak tanah,sulit usaha tempe tahu, banyak yang bangkrut usaha ternak, garment,sepatu, dan banyak pasar tradisional yang bangkrut karena pelanggannya pada beli di supermarket, hypermarket. Komplitlah penderitaan bangsa Idonesia, jika akibat globalisasi, penguasa asing telah memiliki indosat, telkom, perbankan, penerbangan, maka tinggalah bangsa Indonesia ini menjadi penonton di negeri sendiri dan sekaligus penyewa tanah di tanah airnya sendiri, karena bisa jadi semua apartemen dan gedung perkantoran sahamnya sudah dibeli investor luar negeri. Adakah pemimpin bangsa Indonesia yang sedih memikirkan hal ini?

  • ya…seharusnya pemerintah konsisten dan memiliki komitmen untuk bersama-sama berjuang dengan rakyatnya agar tumbuh dan berkembang. Jangan biarkan rakyatnya berjuang sendiri memperjuangkan nasibnya. Lihatlah negara lain yang acuh terhadap rakyatnya, dan berjuang bersama rakyatnya untuk menembus pasar serta meninmgkatkan perkembangan usaha menuju kearah yang lebih baik.
    Lindungilah usaha rakyat negeri sendiri agar mereka bisa bernafas dan hidup sejahtera, bukan sebaliknya.
    Janganlah jadi penghianat dan penjahat yang dengan tega menjual negaranya hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
    Wasss.

  • Dear sir,
    I would like to introduce ourselves as a unique manufacturer for baby food items
    Our company based on Syria and the factory in Syria and another in Libya
    We produce our products under the European standards and the flavors under control of a French company
    We have so many flavor with a nice and compliance packing
    We have the following types
    Date with milk
    Cereal with milk
    Rice with milk
    Honey with milk
    Banana with milk
    Apple with milk
    Fruits with milk
    All of them are dry powder
    We are looking for an agent in your market
    Hope you are interest in this field and we are looking forward to do business with your companies as a sole agent or distributer
    If you are interest in this field of business don’t hesitate to contact us for more details
    with all my best regards
    Dr. Z. Azhari (e-mail: zakazhari@hotmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.