The Death of Sabang

Sabang Food Centre. Itulah Jalan Sabang label saat ini. Penggemar Wisata Kuliner di Jakarta pasti mengenalnya. Tetapi bagaimana nasib pemilik toko di Jalan Sabang saat ini? Sebuah contoh ketimpangan pengelolaan sebuah kawasan di Ibukota.

Benarkah jalan sabang sudah mati? Mungkin judul diatas terlalu muluk. Jalan Sabang, sebenarnya bukanlah sebuah jalan yang besar dan seperti Sudirman atau Thamrin. Bolehlah dibilang sangat pendek.

Tapi bukan karena panjang atau pendeknya jalan tersebut, sehingga nama Sabang begitu terkenal seantero Jakarta.

Jalan Sabang terkenal sebagai salah satu sentra makanan kaki lima di Jakarta. Berbagai macam makanan banyak tersedia di sini. Terutama di malam hari, mulai dari penjual sate (baik kambing maupun ayam) yang berkumpul di ujung jalan dekat Sarinah, kemudian Sea Food, Nasi Goreng, Mie Rebus, dan Soto Ceker (Satu mangkok penuh isinya ceker ayam semua!), hingga bebek bakar. Tumplek Blek di Jalan Sabang.

Kemeriahan kuliner di Sabang itulah yang menghidupkan jalan itu hingga tengah malam. Cuma, di tengah kemeriahan itu, jika kita perhatikan seksama ada pihak yang secara tidak langsung dirugikan. Yakni para pemilik bangunan yang ada di Jalan Sabang.

Terdapat berbagai macam toko di sana, ada Duta Suara yang spesialis di music, ada Mini Lab untuk cuci cetak foto, atau sebuah barber shop.

Diantara sekian banyak pemain retail yang ada di sana, terlihat sekali ketimpangan dengan penjual makanan yang terserak dari ujung ke ujung. Meskipun traffic pengunjung yang ada di Jalan Sabang cukup tinggi, tujuannya cuma satu, yakni Makan!

Tujuan yang lain? mmmm belum tentu, masalah utama adalah macet, dan masalah parkir yang jarang kosong.

Suatu saat, saya pernah ingin mencoba makan di Bakmi Gang Kelinci. Saya sebenarnya sering makan Bakmi GK ini. Cuma biasanya saya delivery order. Sekali waktu ingin rasanya duduk di sana.

Dan saat lewat di Jalan Sabang, saya sempatkan untuk mampir. Dan begitu masuk. Waduh, terlihat sekali bahwa mereka sangat tidak memperhatikan interior. Suasananya sangat murung. Lampu tidak terang, kursi yang tidak terawat. Anehnya, kok sampai sekarang masih eksis di sana ya?

Mungkin mereka banyak mengandalkan delivery order. Karena lokasinya sendiri dikepung gedung-gedung pencakar langit. Sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan kualitas desain interior restorannya.

Hal yang sama jika kita ke Hoka-Hoka Bento yang letaknya tidak jauh dari Bakmi GK. Meskipun lebih baik dibanding GK, tetapi kesan sumpek dan sempit tidak bisa dieelakan lagi.

Dan itu terjadi di mayoritas toko-toko yang ada di Jalan Sabang.

Sunggu sayang, saat sektor informal diperhatikan dan diberi tempat yang layak, justru sektor yang lainnya sedikit terabaikan. Alangkah indahnya jika penataan di Jalan Sabang, saat sektor informal diberi tempat, perlu juga diperhatikan masalah akses buat exisisting player yang lebih duluan ada.

 

 

One thought on “The Death of Sabang

  1. dengan aktivitas jalan sabang yang cukup hidup, terutama bila ditinjau dari sisi kuliner, maka akan lebih baik jika rencana Pemda DKI yang akan menjadikan kawasan Jl. Satrio menjadi kawasan wisata belanja seperti Orchard Road di Singapur di-trial dulu di kawasan Sabang.
    memang bukan sebagai kawasan wisata belanja, tetapi sebagai kawasan wisata kuliner.
    selain kawasan Sabang sudah memiliki image sebagai tempat “cari makan”, kawasan ini memiliki panjang jalan yang pendek sehingga untuk melakukan revitalisasi tidaklah membutuhkan dana yang sangat besar bila dibandingkan dengan pembangunan kawasan Jl. Satrio.
    kunci utama dalam revitalisasi kawasan Sabang adalah ketersediaan ruang parkir dan kawasan ini dijadikan kawasan bebas kendaraan bermotor.
    saya kira masih banyak pemain properti yang mau menanamkan investasi di kawasan ini selama ada support dari Pemerintah Kota. dan retailer di bidang F&B yang tentunya akan menjadi key player akan sangat tertarik dengan sebuah konsep wisata kuliner di Jalan Sabang.

    Salam hangat,

    Herwin Adriansyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.