Bendera Putih dari Makro Indonesia

Ternyata setelah kurang lebih 2 tahun berjuang dengan berbagai macam cara untuk tetap suvive di belantara dunia bisnis retail di Indonesia, para pemegang saham PT. Makro Indonesia mengibarkan bendera putih. Alias menyerah, hal ini ditandai dengan rencana penjualan seluruh saham PT. Makro Indonesia kepada investor baru.

Tampaknya perebutan saham Makro akan seru, karena konon yang terlibat disini tidak hanya pemain lama, tetapi juga pemain baru di dunia retail Indonesia.

Keberadaan Makro di Indonesia, boleh dibilang sebagai salah satu pelopor bisnis retail skala besar di Indonesia. Pada saat Makro masuk ke Indonesia, hampir tidak ada pemain dunia lain yang masuk ke sini. Dan dari sinilah banyak “alumni” Makro yang akhirnya mengisi posisi penting di bisnis retail Indonesia dekade 2000an saat Carrefour, Giant, dan Hypermart mulai bermain.

Bisnis yang diterapkan Makro sebenarnya sedikit unik. Target pasar mereka adalah retailer menengah kecil, dan horeka [hotel, restaurant, dan katering]. Berbeda dengan target pasar retailer besar lain. Tetapi pasar juga yang menentukan bahwa bisnis seperti ini tidak bisa berjalan sesuai yang direncanakan semula.

Sebenarnya tanda-tanda menyerahnya Makro, sudah terlihat di awal tahun 2000an, saat pemain lain begitu ekspansif membuka outlet baru, baik di Jabotabek maupun kota-kota lain. Makro justru adem ayem.

Hal ini bukannya tidak disadari oleh pihak Makro sendiri. Berbagai upaya dilakukan, seperti mengembalikan bisnis Makro ke jalur semula, yakni warung dan horeka. Karena saat pemain lain masuk ke dunia retail, Makro terbawa arus bertempur berebut konsumen.

Langkah lain adalah dengan merekrut SDM handal di industri retail. Hal ini ditandai dengan hadirnya muka-muka “baru” di jajaran Makro. Meskipun sebenarnya mereka pemain lama di industri ini. Hal ini jelas membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.

Akhirnya, daya tahan mereka ternyata terbatas. Genap 2 tahun setelah pembenahan Makro Indonesia dimulai, perusahaan itu bakal dijual pemiliknya. Alasannya mereka akan berkonsentrasi di negara lain. Salah satunya adalah Thailand. Dimana Makro Thailand masih bisa bersaing dengan pemain besar lain seperti Carrefour, Lotus Tesco, dan lain-lain. Suatu keputusan yang sangat logis.

Dan selanjutanya, yang paling ditunggu adalah siapa pembeli Makro Indonesia. Akankah Kasus Alfa terulang pada Makro? Akankah terjadi monopoli di dunia retail Indonesia? Mungkinkah KPPU bertindak mencegahnya?

Kita tunggu saja.

5 thoughts on “Bendera Putih dari Makro Indonesia

  1. sebuah fenomena yang menarik, setelah Alfa di”take-over” Carrefour… kini giliran Makro “memohon” untuk di”take-over”.

    siapa pun (hypermarket player) yang akan membeli saham Makro akan memperoleh keuntungan yang cukup besar.

    menurut saya Hypermart akan melakukan swing untuk berkompetisi dengan Carrefour. jumlah gerai Alfa dan Makro cukup berimbang, 19 gerai.

    akan tetapi seluruh gerai makro berupa free standing yang memberikan satu presence yang sangat baik.

    jika kesempatan ini diambil oleh Hypermart, maka jumlah gerai Hypermart dan Carrefour hanya akan terpaut sedikit.

    ditambah hingga saat ini Hypermart hanya memiliki satu gerai free standing. maka peluang ini sebaiknya diambil oleh Hypermart.

    dari sisi KPPU, jika Carrefour yang melakukan akuisisi, maka akan terjadi masalah dengan issue monopoli.

    akan lebih cantik jika player lain yang mengakuisisi Makro, karena ini akan memberikan pilihan kepada konsumen dan memberikan iklim persaingan yang lebih seru di dunia hypermarket.

    go…go…. Hypermart…
    go…go…. Tosco….

  2. Ada 1 raksasa ritel dari Jerman yg ingin juga memperkuat jaringan mereka di Asia yaitu METRO. Secara konsep bisnis bisa dikatakan nyaris sama dgn Makro sehingga hal ini pasti akan menjadi point plus tersendiri bagi Metro utk membeli Makro.

  3. saya adalah ex.kary makro pepelegi sidoarjo.
    Sedih rasanya mendengar retail yg dulu pernah mendidik saya mulai th 1999 s/d 2005 hrs menyerah begitu saja.Dulu dia memang besar dan tanpa tanding,smoga kedepannya akan jd lbh baik dan yg paling penting karyawan jg sampai jadi korbannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.