Gara-gara Mak Nyuss, Wisata Kuliner Naik Daun

Siapa tak kenal Bondan Winarno? Mungkin banyak yang tak kenal manusia satu ini. Tetapi kalau kata-kata, “Mak Nyuuss..” nah pasti semua orang tahu.

Ya, Mak Nyuss ngetop gara-gara sebuah acara di Trans TV yang menyajikan tempat-tempat makan diberbagai kota di Indonesia. Acara tersebut dipandu oleh Bondan Winarno.

Siapa tidak mau makan enak? Apalagi kalau murah. Nah di acara tersebut, dibahas mulai dari makanan hotel kelas bintang lima, hingga kelas kaki lima.

Apa efek dari itu? Jika sebelumnya seseorang melakukan perjalanan wisata ke suatu daerah yang dicari adalah objek wisata menarik, sekarang pelan-pelan mulai berubah.  Apa itu? Ya.. Tempat Makan Enak.

Orang ke Surabaya, yang dicari adalah rawon setan, atau bebek tugu pahlawan yang enak dan murahnya nggak ketulungan. Sebelumnya orang males ke Semarang karena tidak ada objek wisata yang menarik, sekarang Semarang punya gantinya.

Siapa yang tidak mau nyoba sarapan soto ala Semarang? Mulai dari Soto Bangkong, Soto Neon, atau Soto Bokoran. Belum lagi sambal Lombok Ijo dan Ayam kremesnya. Atau mau mencoba Pecel Yu Sri  sambil klangenan liat Simpang Lima?

Sekarang kita terbang ke Bali, gudangnya tempat wisata. Kalau sudah bosan dengan tempat wisata yang ada, silahkan anda ke mendega cafe di Jimbaran. Tempat yang menjadi tempat bom bali ke dua ini, menjadi tempat yang paling direkomendasikan jika ingin mencoba menu seafood bakar di Jimbaran.

Bagaimana kalau di Jakarta? Nah ini uniknya. Berdasar pengalaman, tempat makan yang menjadi favorit penggemar kuliner di Jakarta seringkali terkenal bukan karena enaknya masakan di tempat tersebut [seperti di daerah lain], tetapi justru faktor diluar rasa. Salah satunya adalah faktor tempat.

Contoh paling nyata adalah Roti Bakar Edi? Apa nikmatnya roti bakar edi? Hampir tidak ada bedanya dengan roti bakar yang lain. Tetapi tempat itu justru terkenal karena lokasinya yang strategis sebagai tempat nongkrong yang murah meriah di sekitar Kebayoran Baru.

Boomingnya bisnis kuliner ini bisa dilihat dari semakin menjamurnya brand-brand lokal. Bahkan mereka berani mengembangkan bisnis melalui franchise. Satu hal yang sulit kita temui di satu atau dua dekade yang lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.