Times Bookstores, Menantang Badai

Sebuah jaringan toko buku moderen telah hadir di Indonesia. Yakni Times Bookstores. Toko buku ini sebenarnya bagian dari Times Publishing Limited Singapore.

Sebelum masuk ke Indonesia, Times Bookstores telah hadir di 3 negara, yakni Singapura, Malaysia, dan Macau. Dan masuk ke Indonesia, dibawa oleh Lippo Group.

Oleh karena itu tidak heran, lokasi pertama terletak di kompleks Universitas Pelita Harapan, Lippo Karawaci Tangerang. Sebuah lokasi premium dan prestius di bagian barat Jakarta.

Dilihat dari konsep, lokasi, dan buku-buku yang dijual di Times, jelas sekali bahwa konsumen yang dituju adalah kelas menengah ke atas. Kelas dimana daya belinya seringkali tidak terbatas. Bahkan di Indonesia sekalipun.

Sebuah pilihan yang boleh dikatakan tidak salah. Mengingat selama ini jika bicara toko buku adalah Gramedia atau Gunung Agung. Kedua jaringan toko buku tersebut lebih mentargetkan kelas menengah. Hal ini terlihat jelas dari buku-buku yang dipajang. Dan kedua toko tersebut sebenarnya juga menginginkan konsumen dari kelas yang lebih tinggi lagi.

Seperti yang dilakukan Gramedia, dengan membuka gerainya di Grand Indonesia. Sebuah lokasi di Jantungnya Jakarta, yakni Bundaran Hotel Indonesia. Sedangkan Gunung Agung terlihat dari aksinya membuka lini baru dari jaringan toko bukunya yakni TGA Bookstores. TGA sendiri singkatan dari Toko Gunung Agung. Toko ini dikategorikan kelas premium.

Belum lagi Kinokuniya, dari MAP group. Dari sini jelas terlihat sebenarnya masih terbuka peluang bagi pemain lain untuk menggembur kelas ini.

Yang jadi masalah adalah, sudah siapkah konsumen kelas ini? Tengoklah kebelakang kisah sedih toko QB, alias Quality Book. Berangkat dari hobi, Richard Oh menggelontorkan banyak uang di bisnis ini. Tetapi apa daya, satu persatu tokonya tutup. Padahal dari sisi kualitas buku dan tempat, tidak ada yang menyangsikannya.

Pernah suatu kali, di gudang QB banyak sekali buku-buku yang terlanjur dipesan dari penerbit, tetapi masih di gudang. Hal ini lantaran tidak lolos sortir. Bisa jadi karena bentuk fisik dari buku itu terdapat cacat, entah terbentur pada saat pengiriman atau yang lain.

Dan suatu kali, ada pameran buku nasional di Istora. Yang dilakukan QB adalah sewa stand, dan membanting harga serendah mungkin. Buku yang semula berharga 300 ribu rupiah, bisa menjadi tinggal 50 ribu di pameran tersebut. Dan hasilnya… BOOM!

Bahkan ada yang rela, bersiap-siap sebelum stand dibuka. Maklum yang dijual bukan buku sembarangan. Dan juga diskonnya bukan cuma 10-15% seperti yang biasa dilakukan Gramedia. Sampai 50% lebih.

Tetapi sayang… semua itu sekarang tinggal cerita.

Akankah Times Bookstores mengikuti jejak QB?

One thought on “Times Bookstores, Menantang Badai

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.