Krisis Telah Tiba, Mari Bertindak Lebih Rasional

Akhirnya krisis itu telah tiba. Kurang lebih satu dekade setelah krisis ekonomi 1998 lewat, kini krisis ekonomi datang juga. Cuma yang ini kita lebih kena imbasnya, bukan sebagai korban utama.

Lalu seberapa besar efeknya terhadap kehidupan kita?

Sampai dengan bulan September 2008 kemarin, masih banyak yang belum tahu bahkan masih optimis bahwa krisis ini tidak begitu berpengaruh terhadap Indonesia. Mungkin betul, soalnya saat itu masih suasana lebaran. Mana ada yang sempet berpikir ke arah sana. Saat itu semua orang memengang uang, minimal gaji ditambah THR. Jadi mana sempat mikir krisis. Mending makan opor ayam deh…

Begitu September lewat dan oktober datang, kita disambut dengan kenaikan Suku Bunga Bank Indonesia yang naik menjadi 9.5%, dan inflasi tahunan sampai dengan bulan September 12.4% . Kalau SBI mencapai 9.5% berarti suku bunga kredit bank umum bisa mencapai 12% lebih, bahkan mungkin bisa mencapai 15%. Jika sudah begini akankah orang masih bisa berkata, “Krisis Ekonomi? Apaan tuh?”

Bagaimana nasib retailer/manufaktur ke depan?

Jika kembali ke masa krisis 98, agak susah membandingkannya. Karena saat itu, banyak pemain lokal yang mengamankan diri dan keluarganya mengungsi ke luar negeri. Karena saat itu suasana tidak kondusif bagi para retailer yang mayoritas keturunan cina. Dan saat yang sama pemain luar masuk, yakni Carrefour. Sebuah langkah yang tepat, karena saat krisis telah lewat Carrefour mendulang kesuksesan luar biasa di Indonesia.

Dari sisi perilaku konsumen, terjadi perubahan yang drastis. Orang-orang yang biasa menghabiskan waktunya di kafe-kafe, tidak ingin menghilangkan kebiasaannya tersebut dan mereka menyerbu kafe-kafe tenda yang sontak menjamur di pelosok negeri.

Dan penurunan kemampuan kantong juga berimbas pada merek-merek yang berseliweran di toko-toko. Jika kita ingat, mulai saat itulah produk-produk dari negeri China mulai membanjiri negeri ini. Yang paling kentara adalah barang-barang elektronik. Sebelumnya jelas para Samurai Jepang yang mengusai industri ini.

Jika kita lihat masa kini, pelan-pelan barang China mulai memantapkan cakaran kukunya di Indonesia. Tidak hanya barang elektronik, batik China pun ada. Belum lagi kalau bicara Handphone China. Dahsyat!

Situasi ini hampir mirip dengan masa krisis dan pasca krisis ekonomi 98.

Fenomena ini sebenarnya lebih menggambarkan bahwa konsumen mulai bertindak rasional alias sadar akan prinsip value for money. Saat normal, barang-barang yang dibeli cenderung, kalau boleh disebut, barang irasional. Barang tersebut nilainya terlalu tinggi untuk rupiah yang dibayarkan untuk mendapatkan barang tersebut. Handphone 10 juta pun belinya sampai antri. Akankah hal itu masih terjadi saat ini?

Mari lebih rasional!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.