Lotte Datang Tidak Dengan Lotere

Akhirnya setelah melalui proses seleksi, Lotte berhasil membeli PT. Makro Indonesia yang sebelumnya secara mayoritas dimiliki SHV Holding N.V.

Untuk membeli Makro Indonesia, Lotte menggelontorkan duit sebanyak U$ 222  juta. Dan konon Lotte berhasil mengalahkan beberapa pemain besar lainnya, salah satunya adalah Carrefour.

Sungguh wajar, jikalau banyak pemain retail mengincar Makro. Dari sisi outlet, meskipun lokasinya berada di pinggiran kota, baik itu yang ada di Jakarta maupun luar Jakarta, outlet Makro merupakan stand alone outlet, outlet yang bangunannya memang didirikan untuk outlet Makro, tidak bercampur dengan Mal atau Trade Centre. Berbeda dengan pemain retail lain yang cenderung campur, baik itu bergabung dengan Mal atau Trade Centre, meskipun mereka juga punya stand alone outlet seperti Makro.

Dari historical perspective, Makro merupakan salah satu tempat belajar ilmu perdagangan retail yang terkemuka di Indonesia pada era tahun 90an. Banyak alumni perguruan tinggi terkemuka di Indonesia berusaha masuk ke Makro untuk memperdalam ilmu perdagangan retail. Tak sedikit pula anak Indonesia lulusan luar negeri yang berburu pekerjaan di Makro Indonesia. Dan hasilnya tak sedikit dari eks karyawan Makro menjadi incaran dari perusahaan retail lain yang kompetisinya semakin ketat setelah memasuki era pertengahan 90an.

Dari sini jelas, Makro tumbuh menjadi organisasi pembelajaran terutama di bidang retail. Hal yang saat ini sepertinya berpindah estafet ke sang pemimpin pasar era 2000an yakni Carrefour.

Melihat kenyataan tersebut, siapa yang tidak tertarik berburu harta terpendam [terperosok?] seperti Makro ini?

Tentang Lotte sendiri merupakan sebuah group usaha yang menaungi berbagai macam bidang usaha makanan, perdagangan dan distribusi, perhotelan, keuangan dan perbankan, persis seperti kebanyakan konglomerat lainnya.

Dibidang retail sendiri, Lotte juga mempunyai berbagai macam brand, baik itu Lotte Department Stores, Lotte Mart, maupun Lotte Supermarket. Entah bentuk mana yang akan diboyong ke Indonesia.

Kemungkinan terbesar format Hypermarket yang akan diterjunkan ke Indonesia, hal itu mengingat faktor lokasi yang cocok dengan bentuk Hypermarket ketimbang bentuk lain. Jika hal ini benar, jelas akan membuat persaingan bisnis retail menjadi semakin seru dan ketat.

Setelah Wal Mart yang angkat bendera putih di era akhir 90an, dan Carrefour yang menjulang di pertengahan era 2000an, pemain lokal satu persatu mulai rontok. Sebut saja Hero, yang sebelumnya begitu perkasa di Indonesia mulai menggandeng pemain asing yakni Giant.  Dan pelan tapi pasti satu persatu cabang Hero mulai digantikan oleh Giant. Apakah pertanda porsi saham Giant di Hero semakin membesar?

Kemudian Alfa, yang kalau boleh dibilang salah satu pengekor Makro karena di awal berdirinya tagline nya Alfa Gudang Rabat, dicaplok oleh Carrefour dan sang pemilik  sekaligus pendiri, Pak Joko, sendiri masih berusaha mempertahankan mainannya yang lain yakni Alfamart.

Tak selamanya pemain lokal rontok, muncul satu nama yang pelan tapi pasti mulai mengganggu eksistensi Carrefour di pasaran, yakni Matahari Hypermart. Perusahaan retail dibawah kendali Lippo group selain Matahari.

Dan Makro yang tadinya diharapkan bangkit lagi setelah tidur panjang, ternyata hanya bangun sejenak untuk kemudian tidur lebih panjang lagi. Dan reinkarnasi menjadi Lotte. Sungguh sebuah babak yang menarik.

Hal ini menunjukkan bahwa bisnis retail ini membutuhkan amunisi modal yang luar biasa besar. Promosi yang jor-joran, perebutan sumber daya manusia yang mahal, perburuan lokasi premium yang tak kalah mahalnya. Dan mengindikasikan pula bahwa dunia ini masih membutuhkan Indonesia. Paling tidak dunia retail butuh pasar yang besar dan menggiurkan seperti di Indonesia.

Masih menunggu pula pemain-pemain asing lain, sebut saja Lotus Tesco asal Inggris yang gosip invasinya ke Indonesia sudah berhembus kencang sejak beberapa tahun lalu. Dan Wal Mart yang berusaha untuk comeback lagi ke gelanggang pertempuran.

Kita tunggu saja kelanjutan peperangan di laga retail ini.

3 thoughts on “Lotte Datang Tidak Dengan Lotere

  1. Yang menarik adalah strategi dari Hero yang membawa merk dagang Giant ke dalam ekspansi bisnisnya, dimana positioning Hero Supermarket sebagai supermarket midle up semakin nampak dengan di buatnya wajah baru beberapa cabang mereka di lokasi lokasi premium, sementara untuk cabang cabang yang lokasinya sangat sensitive dengan harga di convert menjadi Giant Supermaket, dan memang strategi sangat positif, dimana cabang-cabang Hero yang telah di convert menjadi Giant Spm terlihat lebih ramai, sementara Hero spm yang di upgrade menjadi lebih mewah juga tidak kalah ramai. Ini baru perang strategi, menarik mengamati Hero mengantisipasi masuknya retail asing, walaupun Hero juga bukan murni milik pengusaha pribumi lagi.

  2. Mari bersaing secara propetional sehingga masyarakat bisa dijangkau
    jauh lebih murah di bandingkan diretail lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.