Sragen, Kota Bebas Mal

Sebuah keputusan yang sangat tidak populer dan melawan arus telah diambil seorang bupati dari sebuah kabupaten yang tidak populer di Jawa Tengah, Sragen, bahwa selama 20 tahun ke depan Sragen akan bebas dari pembangunan Mal.

Sangat jelas tujuan pelarangan tersebut yakni untuk melindungi pedagang kecil yang banyak terdapat di pasar tradisional. Ratusan bahkan mungkin ribuan pedagang kecil bisa terkumpul di satu pasar tradisional. Tidak dapat dibayangkan jika mereka tergusur dengan adanya mal.

Keputusan itu patut diapresiasi bahkan dicontoh oleh para pengambil keputusan di daerah lain. Karena saat ini justru banyak penguasa daerah yang cenderung mengkonversi tanah atau bangunan yang menganggur menjadi Mal. Dan peluang ini banyak ditangkap pemain-pemain baik lama atau baru. Efek yang diharapkan dengan adanya Mal sebenarnya adanya investasi langsung ke daerah tersebut, dan berarti akan ada pemasukan pajak ke daerah.

Cuma, seringkali mereka melupakan efek negatif dari maraknya pembangunan mal, yakni terdesaknya pedagang pasar tradisional dan juga berkurangnya ruang terbuka di kota tersebut. Sudah jamak terjadi di Indonesia, pembangunan Mal menggusur tanah/lapangan yang sebelumnya dipakai buat ruang bermain/rekreasi warga.

Kembali ke Sragen, keputusan itu akan efektif jika jaminan tersebut akan tetap berlangsung seandainya Bupati Sragen yang sekarang, Untung Wahono, sudah tidak menjabat lagi. Dan pejabat yang menggantikan tetap melanjutkan keputusan tersebut.

Setelah itu harus pula diikuti dengan perbaikan sarana atau infrastruktur pasar tradisional. Sangat mudah ditemui dimana-mana pasar tradisional itu becek dikala hujan, buruknya pengelolaan sampah, parkir yang tidak mendukung, preman dimana-mana. Bupati Untung Wahono perlu kiranya studi banding dengan Pasar Modern BSD atau Simpansa Serpong, dua contoh bagaimana pasar tradisional dikelola dengan sangat bagus, baik itu parkir, kebersihan, penataan pedagang.  Pasar Simpansa Serpong, yang letaknya bersebelahan dengan Sumarecon Mal Serpong Gading Serpong berhasil menarik pengunjung di luar komplek perumahan Gading Serpong, salah satunya adalah warga Lippo Karawaci, yang notabene adalah warga kelas menengah keatas.

Renovasi pasar bukanlah dengan cara membakar pasar dan menggantikannya dengan pasar bertingkat banyak dan harga yang lebih mahal dibandingkan sebelumnya. Cara tersebut hanya menguntungkan pembangun pasar tersebut, dan ujung-ujungnya menggusur para pedagang lama yang tidak kuat untuk membayar sewa/beli kios-kios yang ada.

Kota-kota yang sudah terlanjur dikepung mal, patut kiranya penguasa daerah menjadi wasit yang adil. Tetap memberi kesempatan pedagang modern atau pemilik mal berkembang dan juga memproteksi para pedagang kecil. Sudah menjadi tugas pemerintah untuk melindungi yang lemah.

Ayo siapa lagi yang menyusul Bupati Untung Wahono?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.