Kita Nggak Butuh Mall

Yap, terlebih Mall tersebut tidaklah berbeda dengan mall yang lain. Cuma beda nama dan lokasi. Sedangkan tenant, karakter tenantnya sama. Meskipun pengelola mal mencoba menyatakan bahwa mal itu berbeda, tetapi dalam kenyataannya tidaklah berbeda antara mal yang satu dengan yang yang lain.

Sebuah mall di Indonesia [mungkin juga dimanapun], pasti ada anchor tenant atau penyewa utama yang dijadikan daya tarik oleh mall tersebut untuk menarik minat tenant yang lain untuk menyewa tempat di situ. Dan yang pasti menarik traffic pengunjung.

Anchor tenant favorit akhir-akhir ini tidaklah banyak. Dari jenis Hypermarket, pemain yang ada antara lain, Carrefour, Hypermart, Giant, dan pemain baru yang mungkin akan menjadi ancaman yakni Lotte Mart, pengganti dari Makro.

Sedangkan kalau dari tipe Department Stores, beredar nama Matahari, Ramayana & Robinson, Centro untuk kelas menengah. Sedangkan untuk kelas yang lebih tinggi bisa menjadi pilihan antara lain, Sogo, Seibu, Metro, Debenhams, Harvey Norman. Yang kebetulan kesemuanya dikuasai pemain asing. Berbeda dengan kelas menengah yang pemainnya semua berasal dari dalam negeri.

Kemudian penyewa berikutnya yang menjadi favorit pengelola mal adalah toko buku. Jenis ini pemain yang beredar tidak banyak. Yakni cuma 2, antara lain Gramedia dan Gunung Agung. Sedangkan untuk toko-toko elektronik, beredar nama-nama Best Denki, Electronic Solution, Electronic City.

Dari situ terlihat jelas pola yang dipakai sama antara mal yang satu dengan mal yang lain. Sebenarnya ada satu mal yang sangat berbeda dengan yang lain. Yakni FX yang terletak di kawasan Senayan. Entah bisa disebut atau tidak. Karena tenantnya didominasi oleh restoran, alias mal kuliner. Dengan segment kelas menengah ke atas.

Sebuah terobosan yang patut diacungi jempol. Sudah menjadi kebiasaan, kita datang ke mal, sebenarnya banyak dari kita hanya untuk makan. Tidak lebih dari itu. Dan kalau dilihat lebih spesific lagi, banyak dari para eksekutif yang membutuhkan tempat untuk lunch meeting. Itulah yang ditampung oleh FX, yakni tempat khusus buat makan, hang out, atau lunch meeting.

Adakah yang berani membuat terobosan lagi? Misal sports mal. Mal yang menyediakan tempat untuk berolah raga, mulai dari Futsal, Badminton, Basket atau olah raga lain. Kemudian tenant yang lain lebih menunjang kebutuhan sebelum dan sesudah melakukan olah raga. Bisa toko peralatan olah raga, tempat makan sesudah olah raga. Ditambah lagi bioskop. Bisa dibayangkan habis main futsal rame-rame, kemudian hang out bareng sambil mengisi perut, setelah kenyang mau nonton bioskop pun bisa.

3 thoughts on “Kita Nggak Butuh Mall

  1. Saat ini saya belum bisa melihat sebuah Mall yang berhasil tanpa adanya retail yang menunjang sebagai tempat belanja
    Tren di masa yang akan datang Mall adalah tidak sekedar tempat belanja tetapi juga sebagi tempat untuk rekreasi
    Sehingga para periteil tidak saja menampilkan dagangan yang menarik tetapi juga desain layout yang nyaman serta visual merchandiser yang pas

  2. Maksudnya Harvey Nichols kali kalo utk Dept Store. Kalo Harvey Norman bukan Dept Store kan…
    Pelan2 mall kita memang banyak berubah. Transformasi sedang terjadi meski melalui bbrp mall kelas atas yang baru. Sptnya mal2 baru byk menawarkan konsep kenyamanan total…

  3. ya… memang ide untuk thematik mal sudah mengudara sejak beberapa tahun silam…. tapi sangat disayangkan tidak semua mal thematik berhasil menjaring pengunjung…

    hal sederhana, kalau kita pergi ke mal bersama keluarga, maka semua anggota keluarga kita harus bisa menikmati fasilitas yang ada di mal tersebut…

    kalau ada anggota keluarga yang tidak terakomodasi kebutuhannya pasti bubar jalan atau pindah ke mall lain…

    dari sisi pemain retail, semakin tersegment si pengunjung mall berarti segmentasi calon customer juga akan semakin terbatas…
    ujung-ujungnya ya omset menurun…

    so… forget about thematik mall kecuali developernya punya duit lebih dan idealisme tinggi untuk mempertahankan konsepnya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.