Resesi Modern Market

Modern Market boleh terlihat berjaya dibandingkan Pasar Tradisional. Bahkan KPPU pun memasang mata dan telinga lebar-lebar terhadap perkembangan Modern Market ini. Tapi, betulkah Modern Market memang berjaya?

Jika kita jeli sebenarnya pertanyaan tersebut bisa dijawab. Jika anda sekarang pergi ke website Carrefour Indonesia, terdapat berita bahwa Carrefour Indonesia terakhir membuka outlet terbarunya yakni di Emporium Pluit yakni di bulan Januari 2009. Sekarang bulan apa? Ya.. sudah hampir masuk bulan Agustus. Sudah masuk ke tengah tahun.

Sama juga kalau kita lihat ke pesaing dekat Carrefour, yakni Hypermart, Giant, bahkan Makro yang baru saja di akusisi oleh Lotte Korea. Kalau kita lihat ke toko modern lain, misalnya Electronic City pun punya masalah yang sama. Jumlah tokonya masih di angka 10.

Jika hal tersebut diatas dijadikan parameter perkembangan modern market, bisa jadi mereka memang sedang menghadapi masalah. Karena jika keadaannya bagus, mereka pasti akan segera tancap gas untuk pembukaan toko.

Ekonomi boleh masih tumbuh meskipun melambat, inflasi mulai rendah, dan tingkat suku bunga Bank Indonesia pun pelan-pelan tapi pasti mulai menurun, meskipun bunga kredit masih bertengger di atas. Tapi kalau melihat perkembangan modern market, menunjukkan hal yang sebaliknya. Jumlah outlet yang mengalamai stagnasi, dan konon penjualan di retailer-retailer besar pun mulai menurun.

Ada beberapa kemungkinan penyebabnya.

Kemungkinan pertama adalah daya beli masyarakat yang menurun. Efek dari kenaikan harga minyak di tahun lalu yang cukup tinggi sehingga meningkatkan harga barang-barang kebutuhan pokok, hingga inflasi yang cuku tinggi, membuat dompet masyarakat menjadi tipis. Meskipun tingkat inflasi sudah mulai menurun tetapi harga barang-barang tetap saja sudah terlanjur tinggi.

Kemungkinan kedua yakni turunnya dukungan dari principal, alias produsen. Dengan keadaan yang serba sulit seperti sekarang ini, produsen jelas mengurangi anggaran untuk mendukung modern market. Praktik umum sekarang ini, pihak principal sulit untuk mendapatkan profit saat deal dengan modern market. They can’t make money from it. Mereka lebih suka deal dengan traditional market. Aliran duit jauh lebih jelas.

Kemungkinan ketiga yakni tingginya suku bunga kredit yang diberikan oleh finance company yang mendukung modern market. Kalau bunganya sudah tinggi ya, masyarakat jelas enggan membelanjakan uangnya.

One thought on “Resesi Modern Market

  1. hmm… analisanya sangat oke nih…
    bukan hanya modern market yang slowing down their penetration…
    hampir semua pemain ritel slowing down their pace…
    salah satu contoh.. pemain raksasa ritel Indonesia MAP, sejak issue krisis global mengemuka, praktis mereka ‘nge-rem’ penetrasi pasarnya.

    selain itu ada kendala juga dari sisi properti, beberapa titik yang menjadi sasaran modern market availability dari properti sangat minim atau malah project nya tersendat sehingga schedule opening mundur..

    memang penyebab slowing down ini sudah seperti domino effect dan cenderung menciptakan vicious circle sehingga bingung menentukan penyebab awalnya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.