Serbuan Handphone Murah, Seberapa Lama akan Bertahan?

Nggak ada matinya! Itu mungkin yang paling pas disematkan buat para usahawan di bidan telekomunikasi ini. Jika beberapa tahun lalu, jika berbicara masalah handphone, merek yang hinggap di kepala anda tidak lebih dari 5 merek saja. Sebut saja Nokia, Sony Ericsson, Motorola, Samsung, Siemens. Dengan  anda masih hafal satu persatu model yang ada, karena jumlahnya tidaklah terlalu banyak.

Tetapi jika saat ini anda disuruh menyebutkan jumlah brand mobile phone, dipastikan tidak akan hapal. Terlebih ke level model. Jumlahnya bisa puluhan mobile phone baru bermunculan dipasar. Barang tersebut mudah ditebak asalnya dari mana. Dari mana lagi kalau tidak dari China.

Cerita ponsel China di Indonesia sebenarnya unik, pertama kali muncul ke pasar CDMA yakni Sanex yang dibundling dengan Flexi. Sempat lumayan mendapat perhatian karena Flexi sebagai pendatang baru di bisnis ini dengan harga murahnya dibandingkan operator selular yang lain.

Tetapi hal itu tidak lama, karena masyarakan kembali ke merek-merek yang sudah punya nama tadi. Dan pasar di Indonesia lebih cenderung ke GSM dibandingkan dengan CDMA. Banyak kendala handphone China saat itu terutama di pasar CDMA, salah satunya adalah jumlah model yang terbatas dan tidak memenuhi kepuasan konsumen.

Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata handphone China kembali lagi ke Indonesia, dengan stategi baru. Kalau sebelumnya murni dengan harga yang murah, kali ini tidak. Yakni dengan menyematkan Feature TV di handsetnya. Terkenallah istilah TV Phone. Piala Dunia menjadi momen yang bagus untuk produk ini.

Padahal yang mereka lakukan sederhana, TV Phone berarti masyarakat dapat melihat siaran TV di handphonenya. Apakah mereka harus membayar pulsa? No. Gratis! Karena apa? Ya karena produsennya cuma menambahkan TV Tunernya di handset tersebut. Bukan Streaming, karena pertimbangan biaya pastinya. Dan masyarakat menyambutnya dengan meriah. Konsumennya pun lebih variatif. Tidak cuma kalangan bawah, tetapi kalangan menengah pun antusias.

Dan gelombang itupun ternyata berlanjut dan cenderung membesar. Trend Blackberry yang memudahkan orang mengakses email dan internet, terutama Facebook, ditangkap pula produsen Ponsel China tersebut. Dengan teknologi lama yakni GPRS dan QWERTY di jajaran tutsnya, bermunculanlah jelmaan Blackberry dengan harga terjangkau. Dan Booom …

Seberapa Lama Mereka akan Bertahan?

Cerita diatas mirip dengan pasar DVD beberapa tahun lalu. Dimana serbuan dvd murah dari China, dengan brand lokal, menggusur dvd produksi pabrikan ternama. Murah dan bisa dipakai untuk DVD bajakan [hal yang terkadang sulit dilakukan oleh DVD branded]. Sekarang, masihkah mereka bertahan? Ternyata tidak, DVD branded kembali masuk pasar dengan harga yang tejangkau pula.

Satu kelemahan ponsel china adalah, mereka tidak mempunyai R&D tersendiri. Mereka sekedar follower. Ketersediaan R & D jelas menguntungkan bagi produsen ponsel ternama. Karena mereka lah yang menentukan Trend Pasar. Dan yang lainnya follower.

Kelemahan berikutnya adalah kualitas barang yang rendah. Harga berbicara. Itu hukum yang berlaku di dunia perdagangan. Quality Control yang kuat  membuat kualitas dan harga suatu barang bisa meningkat. Yang pasti berbeda QC yang dilakukan 5 kali dibandingan dengan QC yang dilakukan sekali saja.

Kelemahan ke tiga adalah pelaku ponsel china di Indonesia saat ini adalah lebih banyak trader. Mereka cuma melihat peluang mendapatkan keuntungan sesaat dibandingkan keuntungan jangka panjang. Di masa depan belum tentu mereka masih maintain brand tersebut.

So Sampai Kapan Mereka Bertahan?

One thought on “Serbuan Handphone Murah, Seberapa Lama akan Bertahan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.