Mungkinkah Menghindar dari Mal?

Sejujurnya, saya yang hidup di Jakarta mulai jenuh dengan apa yang dinamakan dengan Mal. Apa yang saya cari di Mal? Mungkin di Mal semua ada. Dari mulai perkakas rumah tangga, hingga urusan perawatan rambut. 10-20 tahun lalu kita kalau mencukur rambut, tempat yang pertama kali kita tuju bisa jadi adalah tukang potong rambut di dekat rumah, kalau di Jawa Tengah dan Jawa Timur kebanyakan dari Madura, dan kalau di Jakarta dan Jawa Barat berasal dari Garut. Sedangkan sekarang, tujuan pertama mungkin adalah salon yang ada di Mal, alasan kepraktisan yang muncul. Setelah potong rambut, bisa cuci mata siapa tahu bisa beli barang menarik.

Dalam waktu 1o tahun terakhir ini, pembangunan mal begitu marak di Jakarta. Sepertinya para pemilik lahan, tidaklah rela membiarkan tanahnya tidak berdiri sebuah mal dan terkadang sebagai pelengkap dari sebuah blok apartemen. Tetapi justru karena tumbuh bak jamur di musim hujan itulah, mal menjadi sebuah tempat yang membosankan. Bagaimana tidak membosankan, antara mal yang satu dengan lain, tidaklah berbeda penjualnya [toko], barang yang dijual, dan tentu saja tujuan dari semua itu adalah menguras isi dompet kita sebagai konsumen.

Jadi sungguh menyedihkan jika kita mencari hiburan ke Mal. Karena belum tentu suasan menyenangkan yang kita dapatkan. Mulai dari mencari tempat parkir yang penuh. Dan tidak kita sadari meningkatkan emosional kita. Muter-muter mencari parkir, semua penuh terisi. Tidak cuma mobil, motor pun demikian. Padahal mayoritas parkir ada di basement yang sirkulasi udara pasti buruk sekali. Padahal mencari parkir merupakan tahap pertama. Belum lagi nanti anak yang rewel minta ini itu. Dan harus antri yang menjengkelkan di kasir. Dan sat tiba dirumah, kebahagiaankah yang anda dapatkan?

Masalahnya adalah kemana lagi kita harus mencari? Semua lahan dikonversi menjadi Mal, dan ruang terbuka pun menjadi susah didapatkan. Kalau pun ada tidaklah gratis. Harus keluar biaya lagi.

Maka tidaklah mengherankan begitu banyak orang depresi di Indonesia. Berdasarkan survey  Majalah Intisari 8 dari 10 orang Indonesia mengalami depresi dengan berbagai tingkatan dan sebab. Dan Mal menjadi tempat untuk melepaskan beban, termasuk bunuh diri. Sungguh Tragis.

One thought on “Mungkinkah Menghindar dari Mal?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.