Jika kita berkunjung ke restoran cepat saji, ada kecenderungan yang patut diwaspadai menurut saya. Yakni, trend untuk membuat paket-paket yang bertujuan untuk ‘memudahkan’ konsumen memilih makanan yang akan disantap. Entah itu paket hemat, paket ekonomis atau paket yang lain, biasanya konsumen cenderung ngikut saja apa yang ditawarkan sama frontliner resto cepat saji.
Tidak salah sih, konsumen untuk ikut saja atas saran [rayuan] dari penjual, tetapi tetap harus waspada karena kembali ke prinsip semula, bahwa restoran cepat saji tetaplah sebuah entitas bisnis yang berarti mencari untung sebanyak-banyakya. Bisa jadi paket-paket itu memang benar-benar murah, tetapi bisa juga paket-paket itu dijadikan cara untuk menjual produk-produknya dia yang tidak laku. Barang yang tidak laku di jual satu paket dengan barang yang laku. Hal itu sering kali kita jumpai.
Dan tidak itu saja, seiring dengan menjamurnya Paket-paket yang ditawarkan, semakin tidak jelas harga masing-masing produk. Konsumen seringkali hanya tahu harga paketnya, tetapi tidak tahu berapa harga masing-masing makanan yang dibeli secara terpisah. Mungkin lebih mahal, tetapi juga tidak menutup kemungkinan untuk lebih murah jika dibelinya dengan produk lain yang sama-sama murah.
Contohnya jika kita ke Mc Donalds. Siang tadi sengaja saya datang ke Mc Donalds Gading Serpong yang baru saja launching [entah di hari apa]. Seperti biasa begitu di depan kasir, langsung saya diberondong rayuan untuk memilih berbagai opsi paket yang ada disitu. Hampir semua sudah dipaket antara makanan dan minuman, dengan berbagai macam kombinasi. Masalahnya adalah dan ini buat saya SANGAT BERARTI yakni tidak adanya daftar harga per item yang tertera di Daftar Menu yang nempel di atas kasir. Jadi kita tidak akan tahu berapa harga Teh Botol Sosro per botolnya. Atau kita tidak akan tahu berapa harga nasi per bungkusnya. Kita hanya tahu harga per item tadi hanya di struk setelah kita bayar.
Apalagi jika kita ingin beli burger dan satu botol air mineral gitu, dijamin sulit bahkan mungkin tidak bisa [Karena Sosro nggak punya Produk Air Mineral??]. Lha harga per item aja tidak ada. Apalagi mengkombinasikan berbagai makanan seperti selera kita. Oke kalau Burger dan air putih kelihatan aneh, bagaimana kalau Ayam, Nasi putih, dan Air putih?
Jelas kalau berdasarkan pengalaman seperti itu kesimpulan saya :
1. Konsumen tidak punya waktu yang cukup untuk memilih menu. Karena saat di depan kasir, kita seperti didorong untuk segera memilih. Belum lagi kita sudah tidak merasa nyaman jika dibelakang ada antrian panjang. Saya yakin pembeli sudah tidak bisa berpikir dan memilih dengan baik.
2. Dengan waktu yang sempit, akhirnya si penjual cenderung akan mengarahkan konsumen untuk membeli paket yang diinginkan penjual, bisa jadi karena paket tersebut memberikan keuntungan yang cukup tinggi bagi penjual.
3. Pembeli akhirnya bukan sebagai raja, tetapi sebagai sapi perah yang harus siap untuk diperah habis isi dompetnya. Karena pembeli tidak mempunyai kesempatan untuk membeli produk yang benar-benar dibutuhkan dan diinginkan.
4. Jika restoran cepat saji terletak di dalam foodcourt [seringkali terbuka dalam arti ada tempat duduk yang terletak di dalam ruangan tersendiri dan ada yang nyampur dengan resto lain foodcourt tersebut], dan disitu ada minimarket atau hypermarket, ada satu trik yang bisa dipakai untuk menekan harga. Yakni anda beli makanan di resto tadi, dan untuk minuman anda beli aja di minimarket atau hypermarket di situ juga. Harga satu botol air mineral di resto bisa mencapai Rp. 3000 atau lebih, dan jika kita beli di minimarket atau hypermarket bisa jadi cuma separo nya saja. Jadi lebih murah kan??
ada masalah dengan dg point empat. bagaimana dengan kalau pihak restoran melarang membawa makanan atau minuman dari luar. ada sich anak smu di tangerang dengan cuek bawa aqua di KFC.hm……tergantung dengan manajer dan pegawainya.
tulisan yg bagus…..
Thanks komentarnya, tentang poin 4, kalau memang aturannya longgar, cara itu bisa dipakai.
Tetapi jarang yang seperti itu, karena minuman margin keuntungannya sangat tinggi, jadi saya ragu kl pihak restoran mau kasih ijin