Facebook; Sarana Buat Berteman atau Berdagang?

Siapa yang tidak kenal Friendster atau Multiply? Situs jejaring sosial yang lebih dulu mengguncang dunia di pertengahan era 2000an.  Jauh sebelum facebook atau twitter, dua situs tersebut lebih dulu digandrungi internet mania terutama di Asia Tenggara khususnya Indonesia.

Salah satu faktor kenapa situs jejaring sosial macam Friendster atau Multiply melejit karena antara satu member dengan member yang lain bisa saling melihat profilnya secara langsung baik itu terutama fotonya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa saat itu yang namanya Chatting menjadi salah satu sarana untuk mencari pasangan. Biasanya setelah chatting kemudian saling bertukar foto, dan dilanjut kopi darat. Dan banyak juga yang tertipu saat kopi darat, sebab terkadang beda bagai langit dan bumi begitu membandingkan foto dan kenyataannya.

Sedangkan kalau Multiply ngetop karena banyak ibu-ibu muda saat itu menggunakannya sebagai sarana buat jualan layaknya arisan ibu-ibu pejabat. Maklum mayoritas pengguna multiply saat itu adalah ibu-ibu. Hal ini agak beda dengan friendster yang didominasi oleh ABG, baik Pre ABG maupun Post ABG [kira-kira before 30]. Nah pas lagi heboh-hebohnya Friendster, muncullah Facebook, dan yang menyerbu pertama adalah kebanyakan eks pengguna friendster yang bagian Post ABG, karena semakin lama semakin nggak nyaman dengan ‘kelakuan’ ABG di friendster yang mulai tidak memakai nama asli di account Friendsternya.

Nah masa masa awal Facebook di Indonesia, pada saat itu seperti ada pembagian pasar yakni untuk para remaja alias ABG banyak bermain di Friendster sedangkan untuk yang sudah Angkatan Babe Gue masuk ke Facebook. Sudah jamak kita temui penggunaan nama asli di Facebook, dan penggunaannya pun lebih normal, yang paling banyak adalah mencari teman lama yang sudah tidak ketemu. Baik itu temen kuliah, sma, smp, sd bahkan TK. Tidak hanya temen belajar, dengan mantan tetangga, keluarga jauh pun hubungannya jadi lebih dekat. Tidak heran saat itu bahkan hingga kini, banyak acara reuni yang diadakan karena facebook.

Ditengah perjalanan, ternyata para ABG mulai penasaran juga dengan para Om nya yang main di FB, pelan dan pasti mulailah agresi para ABG di ranah Facebook. Di awal agresi belum ada perbedaan ‘cara menggunakan’ FB di tangan ABG, tetapi semakin lama rupanya mereka tidak tahan juga. Cirinya sama persis dengan jaman Frienster dulu yakni penggunaan nama alias, yang pakai kata ‘imut’, ‘cantik’ lah. Bahkan temennya sendiri sampai nggak ngenalin siapa nih orang yang jadi temennya. Bahkan kadang pakai nama aneh seperti Sandal Jepit  segala.

Sepertinya dunia masih terlalu luas buat facebook, ada celah untuk merebut hati jutaan hati orang di seluruh dunia untuk terhubung antara satu dengan yang lain. Salah satu yang mencuat adalah twitter, sebuah situs yang memberi kesempatan user nya untuk update status tetapi cukup dengan 140 karakter saja, tidak boleh lebih.  Jumlah yang sama bila kita bandingkan dengan karakter di sms.  Pendek memang, bahkan sangat pendek jika kita bandingkan dengan status di facebook yang tidak ada batasan karakter. Tetapi justru orang jadi kreatif dengan terbatasnya ruang, misalnya munculnya situs pemendek url. Bahkan orang enteng saja chatting dengan orang yang tidak dikenalnya tetapi sedang membincangkan topik yang sama.

Saya lihat mulai ada pergeseran dari facebook ke twitter. Saya bilang pergeseran tidak perpindahan, karena mereka tidak meninggalkan sepenuhnya facebook dan pindah ke twitter, tetapi mereka menggunakannya secara berbeda. Tadinya mereka update status melalui wall mereka di facebook, tetapi sekarang lebih cenderung ke twitter dengan alasan lebih private, karena mereka tidak ingin curhatnya diketahui oleh temannya, apalagi curhat tentang kantor pasti mereka hindarkan dari temen kantor.

Sedangkan facebook? Nah ini dia, namanya para jagoan apapun bisa dijadikan senjata. Wall di facebook pun mereka jadikan sarana untuk berjualan. Alasannya simple, karena mereka tidak perlu susah susah bikin online store yang membutuhkan kemampuan teknis untuk maintenancenya. Dan lagi di facebook, konsumennya sudah ada didepan mata, yakni teman-teman mereka yang sudah ada di dalam daftar.

Cara yang sering dipakai yakni mereka pasang foto barang dagangan, kemudian di foto tersebut mereka tag calon pembeli. Otomatis teman-temannya yang di tag akan mendapat notifikasi dari facebook bahwa dirinya di tag oleh penjual sekaligus temennya tadi. Dan naluriah mereka langsung meluncur ke foto tersebut karena mengira di dalam foto tersebut ada foto dirinya. Padahal disitu yang ada adalah barang dagangan.

Awal mulanya adalah tag ini sering dipakai buat ngerjain orang yang di tag, dengan di tag mereka merasa wah ada foto saya nih disitu, begitu dilihat eh ternyata foto buat ngeledek.  Lama-lama cara ini dipakai buat para pedangang untuk promosi dagangannya. Murah meriah dan tembak langsung. Cara ini bisa jadi sangat efektif, karena bisa langsung ke calon pembeli yang dituju, misalnya dia ingin jualan baju bayi, dia cukup tag temen-temennya yang baru punya bayi, dengan cara liat saja foto-foto yang ada foto bayi di album temen-temennya.

Tapi sejujurnya lama-lama hal ini cukup mengganggu, awalnya terganggu dengan nama temen-teman di facebook yang berubah menjadi aneh-aneh, kemudian tag foto-foto yang nggak jelas. Boro-boro menjadi tertarik, yang ada akhirnya antipati dan ujungnya adalah me remove tag yang ada di foto tersebut. Dan yang  jelas secara jangka panjang, hal ini juga tidak menguntungkan, karena orang akan tetap keseriusan penjual dalam berdagang online. Sedangkan di facebook, kesan kurang serius lebih menonjol.  Yang lebih baik adalah menggunakan facebook sebagai kepanjangan tangan dari onlie storenya, terutama lewat Fan Page.

9 thoughts on “Facebook; Sarana Buat Berteman atau Berdagang?

  1. Buat produsen atau pedagang kreatif, FB bisa jadi media pemasaran yang jitu. Tapi memang perlu mengenal etikanya deh, biar gak mengganggu pengguna FB yang lain…

  2. Menurut hemat saya, sah sah saja orang berdagang di situs jejaring sosial sekalipun sepanjang menjunjung tinggi aturan main di situs ybs dan sesuai dengan norma / etika bisnis.

  3. iya sih mas, memang kadang mengganggu dengan taging itu, mungkin lebih etis kalau sekedar update status supaya orang ngunjungin profilnya atau share link jadi kalau ada temen-temen yang baru aja login bisa liat di home 🙂

  4. Kalau sudah nge-tag, menurut saya itu masuk kategori spam. Dan onlineshop spammers itu sekarang semakin “kreatif” dengan mengadakan lomba tag sebanyak2nya dan menjanjikan produk gratis/diskon besar2an.

  5. benar bgt, faktany skrg online spammer udh merebak di FB,
    dg iming” yg nge tag trbanyk dia yg dpt free product..
    strategi pemasaran yg jitu dg mnggunakan tenaga org lain

  6. You will discover several people who want to go shopping, and the best thing to accomplish is get dresses inexpensive. If you can uncover clothing which have been way beneath retail price, then most of the people would. You can find countless distinct varieties of garments, which will consider to run by way of some of them. Acquiring wholesale fashion clothes might be the top thing.

  7. menurut saya yaa bisa dua duanya, selain berteman bisa juga berdagang, karna pengguna facebook itu banyak sekali dan sangat berpotensi facebook bisa juga di manfaatkan untuk marketing juga. sy sendiri punya toko sahabat market itu membuka networking di facebook juga, dan lumayan juga sih menurut saya, untuk mendongkrak penjualan juga. tapi ngga lupa juga di sela sela sy juga manfaatkan untuk chatting dengan teman2 saya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.