Perang Baratayudha Convenience Store Indonesia

Kehadiran 7 Eleven di Indonesia yang menggandeng PT. Modern Putra Indonesia yang sebelumnya banyak bergelut di dunia fotografi Indonesia dengan Fuji Film dan Kamera Fuji, ternyata sedikit mengubah peta dunia retail Indonesia, terutama di segmen Convenience Store.

Sebelum ada 7 Eleven, di Indonesia telah hadir terlebih dahulu peritel dari negeri Paman Sam, yakni Circle K yang hadir dengan format lebih seperti minimarket kelas atas. Yang ternyata hal ini mengganjal di hati kantor pusat  Circle K.

Kehadiran  7 Eleven dengan format yang sedikit berbeda, yang lebih menekankan kepada Fresh Food dan dilengkapi dengan meja kursi, menjadikan 7 Eleven sebagai alternatif tempat hang out yang diterima konsumen baik itu di segmen pelajar maupun karyawan usia muda.

Kontan hal ini “menyengat” Circle K yang telah terlebih dahulu hadir di Indonesia menjadi seperti “old school”. Format Circle K memang tidak dapat disalahkan karena ada aturan yang membatasi Convenience Store asing di Indonesia. Dan 7 Eleven bisa hadir dengan konsep tersebut ternyata mereka mengajukan ijin sebagai restoran, bukan sebagai Convenience Store. Akhirnya di beberapa gerai Circle K konsepnya mulai berubah menjadi seperti “asli” nya yakni seperti 7 Eleven sekarang ini.

Dan “perang” ini membuka lembaran baru lagi dengan kehadiran pendekar ritel Jepang lain yang tidak mau ketinggalan kereta hadir di Indonesia yakni Lawson Station. Menyapa Indonesia dengan partnernya yakni PT Midi Utama Indonesia Tbk yang masih satu group dengan Alfamidi dan sekeluarga dengan Alfamart. Kemudian disusul pula Family Mart yang digandeng PT. Sayap Mas untuk hadir meramaikan pasar retail di Indonesia.

Akankah ada pemain baru yang akan muncul lagi?

 

 

2 thoughts on “Perang Baratayudha Convenience Store Indonesia

  1. Ritel skala kecil (minimarket, c-store) merupakan segmen yang paling diproteksi dalam regulasi ritel. Tapi justru segmen ini yang paling banyak dibanjiri oleh pemain asing yang mayoritas masuk melalui franchising arrangement, setidaknya melihat fenomena setelah tahun 2009 ke sini.

    Pertanyaannya: mengapa demikian? Mungkin karena franchise merupakan strategi paling aman dan murah sementara ini bagi peritel asing untuk berbisnis di Indonesia, sambil menunggu liberalisasi lebih lanjut.

    Peritel Jepang memang yang paling agresif bermain di segmen ini. 7-Eleven (pemain c-store chains terbesar no 1 di Jepang), Lawson (no.2), dan FamilyMart (no.3) sudah beroperasi. Akan menyusul Ministop-nya AEON, raksasa ritel Jepang, bekerjasama dengan Supra Boga Lestari (operator Ranch Market dan Farmers Market).

    Peritel Jepang (mis. Sogo)pernah berkibar di pasar Indonesia pada awal 1990-an dengan memperkenalkan konsep Department Store. Tapi karena terjadi krisis di dalam negeri Jepang di akhir 90-an, banyak yang menunda sejenak ekspansi internasionalnya. Now, the big brother is back!

  2. Kondisi ini terus terjadi hingga th 2015 bahkan beberapa pemkot “salah” membuta kebijkan, solah2 merek membela retail kecil padahal justru mematikan ekonomi lokal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.