Toko Buku Di Persimpangan Jalan

Jaringan toko buku terkenal di Amerika Barnes & Nobles ternyata sedang berjuang untuk tetap hidup dengan menjual mainan. Diberitakan di http://www.bloomberg.com/news/2014-09-10/barnes-noble-fights-book-decline-by-selling-more-toys.html penjualan mainan di Barnes & Nobles meningkat 20% dibanding kuartal terakhir 2013.

Seiring menjamurnya Online Bookstore dan E-book, nasib toko buku konvensional memang di persimpangan jalan untuk tetap suvive di tengah gempuran kemajuan tekhnologi. Toko buku online sangat memudahkan konsumen memilih buku, tidak hanya itu tapi juga mereka dapat memilih toko buku hanya lewat ujung jari.

Berdasarkan penelitian, orang menghabiskan waktunya dengan smartphone nya antara satu sampai dengan dua jam per hari. Ini  setara dengan sehari dalam satu bulan. Kebiasaan ini secara tidak langsung mengurangi interaksinya dengan benda lain, salah satunya adalah buku. Waktu membaca buku otomatis mempunyai saingan baru yakni membaca di gadget.

Efeknya pengeluaran untuk belanja buku punya potensi menurun di masa datang. Meskipun pendapat itu masih jadi perdebatan, karena orang masih membutuhkan dimensi lain saat membaca buku. Akan terasa beda saat membuka lembar demi lembar dibandingkan menggeser layar gadget.

Apa Yang Bisa Dilakukan Toko Buku Agar Tetap Bertahan?

Product Expansion: Cara yang dilakukan Barnes & Nobles bisa jadi contoh. Yakni menambah lini produk yang mungkin tidak ada hubungannya dengan buku tapi bisa dijual di toko buku. Kalau kasusnya Barnes & Nobles, mereka mulai menjual mainan. Kalau di Indonesia, jika kita perhatikan Toko Buku Gramedia, space untuk Non Buku sebenarnya mulai membesar, bahkan bisa 50% adalah sales area untuk Non Buku. Produknya bisa Stationary, alat musik, alat olah raga, Office Equipment.

New Channel: Membuka channel baru, salah satunya yang wajib adalah Online. Channel lain yang mungkin bisa dipertimbangkan adalah Toko Buku Indie. Setiap market pasti punya niche. Misalnya, toko buku yang menjual khusus novel, segala macam novel baik itu luar, lokal, atau dari penerbit kecil.  Coba cari tahu, segmen market yang paling banyak penggemarnya, dan eksplorelah, siapa tahu anda menemukan segment yang belum banyak tersentuh pemain lain.

Manhattan coffee shop (a branch of the D’Espresso chain)

Warung Kopi + Buku: Salah satu kebiasaan orang adalah Ngopi sambil baca. Toko Buku ada kafenya mungkin biasa, tapi bagaimana kalo Warung Kopi yang menjual buku, dengan konsep interiornya seperti toko buku atau perpustakaan.  Buku yang dijual disesuaikan dengan target market warung kopinya.

Printing On Demand for Rare Book: Tahukah anda terkadang, bahkan ada saja orang mencari buku-buku lama yang sudah tidak ada dipasaran. Buku-buku yang pernah jadi Best Seller di jamannya. Jika masih ada penerbitnya, mungkin penerbitnya bisa diajak kerjasama, misalnya dicetak lagi tapi khusus pembeli di toko tersebut. Atau jika bisa Printing On Demand tapi harus melalui toko itu.

One thought on “Toko Buku Di Persimpangan Jalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.